Sadness

Desember 4, 2008

Baru kali ini aku merasakan betapa sedihnya kehilangan orang yang paling kita cintai. Ya, ayahku telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan gadis kecilnya. Aku yang sedari dulu sangat dekat dengan ayahku. Aku lah yang sering membantu pekerjaan ayahku. Sedikit banyak aku tau bagaimana dunia kerjanya. Sedari kecil sering diajak main di kantornya, atau kerumah rekan kerjanya. Ayahku orangnya sangat keras. Semua yang menjadi kehendaknya harus dituruti. Sangat sulit untuk dibantah. Kalu beliau bilang A, maka aku harus lakukan A. Itulah yang terkadang menjadi keluh kesah kami para anaknya. Kami hanya bisa memaklumi, mungkin karena beliau anak pertama yang terbiasa menjadi leader bagi adik2nya.

Ayahku meninggal di usia yang masih muda. Baru 56 tahun. Lebih muda bila kita melihat usia Rasulullah wafat. Apa yang sudah aku berikan untuknya? Ah..aku belum memberikan apa2 untuknya. Belum bisa membahagiakannya. Bahkan belum sempat melihat ku menikah. Mungkin, ia akan merasa lebih lega jika sudah mengantarkan ku sampai ke pernikahan. Tugasnya sebagai orang tua sudah terpenuhi. Merasa lega dan bahagia melihat ku ada yang mendampingi dan menjaga. Ah..ayah, mengapa engkau pergi sebelum menjadi wali di pernikahanku.

Ibuku, ya kasihan ibuku. Beliau kehilangan belahan jiwanya. Dirumah merasa kesepian. Anak2nya sibuk beraktivitas. Ibuku lah yang selalu merawat ayahku dulu dikala beliau sakit. Merawat dengan sabar. Sembari mengerjakan pekerjaan rumah. Semua ibuku yang mengerjakannya. Betapa salutnya aku melihat ibu dan ayahku. Cinta kasih mereka. Itulah cinta dengan sepenuh hati. Seorang teman pernah bilang, mencintai itu meskipun, bukan karena. Mencintai meskipun tidak sempurna. Belajar mencintai dan menerima kekurangan. Betapa sedihnya jika di masa tua nanti tidak ada yang menemani dan mendampingi kita.  Aku sampe sekarang masih sering menangisi ayahku. Malam hari, nangis sendiri di kamar ketika mau tidur. Teringat kenangan2 sewaktu ayah masih hidup. Aku tidak ingin ibu melihatku menangis, aku tidak mau ia ikut terbawa sedih. Hatiku memang sangat rapuh, mudah sedih, sulit untuk melupakan kenangan. Dalam keramaian aku memang terlihat ceria, tapi di kala aku sendiri, aku kembali teringat ayah. Ah..aku harus bisa tegar dan tabah menghadapi ini semua. Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Semoga aku bisa melewati ini semua. Berikanlah aku ketabahan Ya Allah.

Sekarang, aku hanya punya ibu, kedua kakak serta adik. Sebaik dan seburuk apapun, merekalah keluargaku. Mereka lah yang akan selalu mensupport ku. Apapun yang terjadi, aku akan ada untuk kalian semua. I love you mom, bro and sist :)

For my beloved man, terima kasih untuk doa dan supportnya ya sayang.
Kehadiranmu sangat berarti untukku.
Sekarang kamu lagi sakit ya sayang, kamu pasti kecapekan setelah beberapa hari kemaren nemenin aku.
Cepet sembuh ya, Cepet selesain skripsi juga. Supaya kita gak lagi terpisah gini. Supaya kamu selalu ada di dekatku :D

Entry Filed under: Curhat. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts